Viagra Obat Disfungsi Ereksi Terefektif Berefek Samping Besar

Jenis obat disfungsi ereksi dapat menyebabkan penurunan tekanan darah karena mereka adalah vasodilator, yang bertugas membuka pembuluh darah.Obat dengan jenis PDE5i dianggap sebagai terapi pilihan pertama untuk mengobati disfungsi ereksi. (Getty Images/ Achim Prill)

Jakarta, CNN Indonesia — Viagra adalah pengobatan disfungsi ereksi paling efektif, tetapi juga memiliki tingkat efek samping lebih tinggi dibandingkan pilihan lain, menurut analisis terhadap lebih dari 150 percobaan.

Viagra dalam pengobatan secara umum dikenal sebagai sildenafil. Para lelaki yang mengkhawatirkan efek samping viagra, yaitu sakit kepala, wajah memerah, gangguan pencernaan, dan hidung tersumbat akan mengambil obat disfungsi ereksi cialis, yang dikenal umum sebagai tadalafil, kata laporan peneliti dalam European Urology.

Makanan-makanan Super yang Bisa Jadi Pengganti Viagra
‘Es Krim Viagra’ Peningkat Gairah Seksual Kaum Wanita
Kisah Remaja Jalani Operasi Pengecilan Penis Pertama di Dunia
Mengatasi Lemah Syahwat Tanpa Obat-obatan

Banyak di antara lelaki yang kesulitan mendapatkan atau mempertahankan ereksi, apalagi saat usia mereka bertambah. Meski begitu, disfungsi ereksi bukan bagian alami penuaan, kata Lembaga Kesehatan Nasional Amerika Serikat.

Sebuah tinjauan baru membandingkan tujuh obat disfungsi ereksi, semuanya masuk ke dalam kelompok obat phosphodiesterase 5 inhibitor (PDE5i). Cara kerja obat tersebut yakni dengan menghambat enzim yang dapat mengurangi potensi ereksi.

Obat disfungsi ereksi viagra, cialis, levitra (vardenafil) dan stendra (avanafil) semua bekerja dengan cara tersebut, dan telah disetujui untuk digunakan di AS. Sementara, obat tambahan zydena, helleva (lodenafil) dan mvix (mirodenafil) disetujui hanya di beberapa negara lain.

Obat dengan jenis PDE5i dianggap sebagai terapi pilihan pertama untuk mengobati disfungsi ereksi.

Namun, mereka hanya efektif untuk sekitar 60 sampai 80 persen lelaki yang mencobanya, dan banyak lelaki berhenti memakainya, kata Alexander W. Pastuzak dari Baylor College, Departemen Kedokteran Urologi di Houston, Texas. Namun, Pastuzak bukan satu-satunya bagian dari penelitian baru tersebut.

Para peneliti di Universitas Zurich, Institute Teknologi Swiss, dan Universitas Kedokteran Maastricht di Belanda mengulas sekitar 82 penelitian tentang efektivitas obat tersebut, sementara 72 studi mengeksplorasi efek sampingnya.

Semua pengobatan tersebut dianggap lebih efektif dari plasebo dalam mengobati disfungsi ereksi, umumnya aman, dan ditoleransi dengan baik, kata para penulis.

Dosis aman obat disfungsi ereksi

Dosis 50 – 100 miligram viagra tampak menjadi pengobatan paling efektif, kinerjanya sekitar 50 persen lebih baik daripada plasebo. Sementara, dosis yang lebih kecil dari itu kurang efektif.

Stendra dengan dosis mulai dari 50 sampai 200 miligram merupakan di antara yang paling kurang manjur, hanya 20 sampai 30 persen lebih efektif dari plasebo. Dosis stendra 50 miligram dikaitkan dengan tingkat efek samping terendah dari obat disfungsi ereksi manapun.

Sementara, dosis levitra 20 miligram memiliki efek samping paling tinggi, 25 persen. Dosis viagra dan cialis yang tinggi cenderung menyebabkan efek samping antara 21 dan 22 persen.

“Viagra memiliki profil efikasi dan keamanan, dan tetap menjadi pilihan pengobatan paling penting untuk lelaki dengan disfungsi ereksi,” kata juru bicara bicara Pfizer, perusahaan pembuat obat, seperti dilansir dari laman Reuters.

“Viagra telah dipelajari selama lebih dari 15 tahun dengan lebih dari 136 percobaan klinis diselesaikan, dan uji klinis berkelanjutan yang melibatkan lebih dari 23 ribu laki-laki dengan disfungsi ereksi.”

Efek samping obat-obat disfungsi ereksi

Efek samping tergantung pada obat apa yang digunakan dan enzim lain yang mampu dihambat oleh obat tersebut, kata Pastuzak. Salah satu efek samping utama viagra adalah perubahan visual, sementara cialis sering menyebabkan nyeri otot.

Secara umum, jenis obat disfungsi ereksi dapat menyebabkan penurunan tekanan darah karena mereka adalah vasodilator, yang bertugas membuka pembuluh darah, katanya. Mereka sebaiknya tidak digunakan dengan obat jantung berbasis nitrat karena dapat menyebabkan penurunan tekanan darah secara tajam.

“Efek samping umum lainnya termasuk kemerahan pada wajah, kemacetan, sakit kepala, sakit perut,” kata Pastuszak.